-Malam selalu memberiku kesempatan untuk lebih menggali arti mengenai cahaya-
Sejenak sebelum tidur, ada sesuatu yang menggangguku. Sebenarnya hari ini aku mencoba untuk mencari sesuatu yang lain, untuk mencari pelarian dari kesunyian. Tapi entahlah, mungkin memang belum waktunya aku menemukan hal yang bisa sedikit "meramaikan" ceritaku di sini.
Tiba-tiba aku teringat ada sebuah cerita. Cerita yang merupakan replikasi kw super dari cerita yang pernah aku alami sebelumnya. Aku tersadar bahwa ada hal yang aku alami sekitar satu tahun dua bulan yang lalu dan kembali terulang lagi pada bulan ini. Kamu ingat? Mungkin kamu lupa, karena apabila tidak diingatkan oleh malam ini, akupun juga akan lupa.
Aku menyebut cerita ini kw super dari cerita sebelumnya karena ada beberapa kesamaan yang aku sadari. Biar aku beri petunjuk!
1. Kabut
Jarak pandang kita kurang lebih sama. Seratus meter? Aku rasa tidak sampai. Mungkin sekitar sepuluh meter kedepan. Ada lapisan putih yang seolah menampakan dirinya pada setiap sumber cahaya yang kita lewati. Kabut ini memberikan kesempatan cahaya untuk terlihat, namun ia pula menghalangi cahaya untuk melaksanakan tugasnya. Menghalangi kemampuan cahaya untuk melawan pekatnya sang hitam yang telah ada di sekeliling kita.
2. Kita kedinginan
Kamu tau suhunya berapa pada
hari itu? Aku juga tidak. Tapi ada satu hal yang jelas, ada sesuatu yang
menusuk-nusuk tubuh kita menembus lapisan kain yang telah sengaja kita
gunakan untuk melawan hal tersebut. Namun harus kita akui, seberapapun
perisai yang kita gunakan, serangan dari cuaca memang masih terlalu
agung untuk kita kalahkan.
Kamu mungkin tau kesamaannya namun tentu kamu tidak akan tau mana yang aku katakan sebuah kejadian sesungguhnya dan mana yang merupakan replikasi kw super dari kejadian yang asli. Well, keduanya memang terjadi.
Namun kamu mengerti? Apa yang membuat ini menjadi asli dan membuat menjadi replikasi?
Sederhana. Kesamaan skenario yang terjadi tersebut membuat aku menyadari apa hal yang bisa membuat ini berbeda.
Yappp!!!
Sadar atau tidak sadar, ada perbedaan yang sangat mendasar bagaimana aku melewati suasana malam itu dengan malam lainnya. Bedanya hanya satu. Orang yang berada disampingku, bukan orang yang mampu memanfaatkan suasana malam itu untuk menciptakan kehangatannya.
Suasananya boleh sama, namun rasanya berbeda.
Malam ini aku sadar, bahwa kamu memang ajaib! Kamu punya kekuatan yang berbeda!
Aku yang diberikan kesempatan dua kali mengenal perasaan yang sama, diberikan kesempatan untuk lebih mengerti apa yang mampu menciptakan suasana yang berbeda. Bukan malam, bukan kabut, bukan suasana,
Tapi KAMU!

-Cerita ini terinspirasi untuk mencari tau lebih dalam makna dari de ja vu
Pasti ada tujuan engkau mengalami sesuatu dua kali. Carilah pesan dari hal tersebut-
Read more
It was another ordinary night.
We still share happiness, laugh together, and of course talking about our "public enemy" just like what we did since 4 years ago.
It is amazing to see how we grow older, still we never become an old friend.
Yes, today was just another ordinary night, for our extraordinary friendship.
Read more
Kadang aku berharap, dua telinga ini hanya mendengar apa yang perlu didengar.
Aku juga pernah berharap, dua mata ini hanya melihat apa yang perlu dilihat.
Dan semoga kepala ini hanya memikirkan apa yang memang perlu dipikirkan.
Ini sudah kesekian kalinya ya kamu datang. Kamu tidak bosan?

Untuk kesekian kalinya kamu mengantarkan surat kepadaku. Entah sejak kapan ini menjadi pekerjaan tetapmu. Hahaha~
Kali ini kamu masih mengantarkan surat yang sama. Sebuah suratan lintas dimensi pemberitahuan sebuah perlombaan.
Dua bulan ini kamu selalu memberikanku pemberitahuan tentang perlombaan ini. Lomba berpasangan yang berjudul "survival of the fittest". Dan kamu tau? I believe that we must not become the fittest to survive.
Itu lah alasan mengapa aku tidak tertarik untuk mengikuti lomba ini.
Itu keputusanku, sudah sangat bulat!
Tapi sejauh ini kamu tidak menyerah. Haha :)
Kamu memang pintar, kamu mencoba menciptakan suasana di mana seolah partnerku menginginkan kita masuk dalam perlombaanmu.
Aku tau strategimu, menciptakan keraguanku akan keputusanku.
Kali ini aku ingin bercerita, berharap cerita kecil ini dibaca oleh partnerku.
Agar ia dapat memberitahuku, bahwa ia juga tidak ingin masuk ke dalam lingkaran setanmu.
Ucapan yang akan menghilangkan keraguanku.
Hanya hal itu, yang akan membuatku tidak mendengar apa yang aku tau tidak perlu aku dengar,
yang membuatku percaya
WE WILL SURVIVE
Read more
8 November 2014
Hari yang kuharap dapat segera terlewati tiba.
Aku memang percaya akan kebesaranmu, namun aku tidak percaya kamu akan menciptakan sesuatu di hari ini.
Mungkin terlalu tendensius, tapi itu yang aku rasakan taun lalu kan?
Kamu tau bagaimana sakitnya ketika memori indah yang terbangkitkan justru akan menjadi pisau yang mencabik-cabikmu ketika melihat kenyataan yang ada?
Sudah cukup, aku tidak mau merasakan itu lagi!
Hari ini berjalan seperti yang aku harapkan. Tanpa ada harapan apapun, tanpa ada ekspektasi sedikitpun, cukup menjadi hari biasanya. Itu sudah cukup!
Malam-pun tiba, kembali ke kamar ini dan aku ingin tertidur dengan cepat.
Dengan segera teleportasi ke hari esok. Itu saja permintaanku.
Tapi tampaknya kamu belum mau aku melewatkan hari ini. Ada bayangan yang berdiri di depan pintu, ada ketukan yang mencegahku untuk tertidur.
Siapa?
Ada malaikatmu yang datang mengetok pintuku pada hari ini.
Bermodalkan lilin mati lampu dan sepotong rainbow cake.
Kejutan kecil mereka sangat bermakna sekali.
Aku sadar ada pesan yang ingin kau sampaikan melalui mereka.
Aku menjadi tersadar bahwa dalam gelapnya malam ini, sebatang lilin kecil yang biasanya tidak kau anggap akan mampu menerangi harimu.
Aku sadar bahwa ternyata telah ada surga kecil untukku di sini. Surga yang kau ciptakan dengan mereka, yang akan mampu menerangi bagian perjalanan yang gelap ini.
Aku tau,kamu mengharapkan ku untuk lebih mensyukuri hidup.Untuk menggali makna hidup lebih dalam.
Hingga aku tidak akan lupa dengan lilin-lilin kecil yang telah kau berikan untuk menerangiku.
Sementara itu aku tau kamu memberikan aku sepotong rainbow cake untuk membuatku sadar bahwa hidupku memang memiliki banyak rasa.
Aku tau kamu tidak mau menciptakan kebosanan dalam hidupku, untuk itu kamu memberikan hidup ini banyak rasa, dari yang aku suka hingga yang aku tidak suka.
Dari hal yang membuatku melayang hingga terjatuh kejurang.
Dan kuemu hari ini aku makan habis hingga tidak bersisa.
Sama seperti janjiku yang akan menikmati dan mensyukuri hidup ini, baik suka ataupun duka.
Kepada malaikatmu. aku ucapkan terimakasih.
Read more
Boleh jujur? :)
Bulan ini sebenarnya adalah bulan yang sangat aku takutkan.
Aku takut ada ekspektasi berlebihan yang akan dihancurka berkeping-keping.
Aku juga takut ada jarak yang akan menghancurkan segala upaya.
Dan aku takut, ada memori yang akan terulang kembali.
-Kamu tau kan ini november?-
Iya! Ini memang bulan yang paling aku tunggu. Banyak kejadian spesial yang seharusnya terjadi bulan ini.
Masih teringat ketika 2 tahun lalu tepat pada hari ini aku terbang menuju kampung halamanku.
Masih teringat ketika ada tepung serta telur yang menghantam kepala dan menjadikanku bagian dari adonan roti.
Aku tidak mungkin lupa!
-Lalu kenapa?-
Kamu tau kan tempat ini berbeda?
Kamu sadar kan aku ada di dimensi yang berbeda?
Aku sadar aku harus siap. Siap tanpa ada satu orangpun yang peduli. Siap tanpa adanya hal spesial di hari ini. Lalu bagaimana aku bisa menyiapkan diri ketika segala memori indah tersebut masih terbayang di kepalaku?
Wajar apabila aku akan selalu membandingkannya dengan dua tahun sebelumnya.
Wajar apabila akhirnya akan ada suatu perasaan yang mencabik hari ini. Perasaan yang selalu ada namun tidak pernah aku akui. Wajar kan?
-Tapi mereka pasti ingat kok.-
Tapi kamu tau? 12 hari setelahnya aku kembali akan mengutuk diriku. Mengutuk sosok yang tidak berdaya yang tidak mampu melawan eksistensi dari jarak.
Mengutuk sesosok manusia yang hanya bisa mengandalkan sebuah gelombang, yang tentunya tidak akan bisa menggantikan eksistensi sosoknya.
Mengutuk sayap yang tidak ada di bahunya.
Mengutuk keputusan yang telah dibuatnya.
Kamu tau rasanya?
Membayangkannya saja aku tidak mau. Aku perlu membuat diriku mati rasa.
Aku harus siap!
Read more