Survive

0 comments
Kadang aku berharap, dua telinga ini hanya mendengar apa yang perlu didengar.
Aku juga pernah berharap, dua mata ini hanya melihat apa yang perlu dilihat.
Dan semoga kepala ini hanya memikirkan apa yang memang perlu dipikirkan.

Ini sudah kesekian kalinya ya kamu datang. Kamu tidak bosan?


Untuk kesekian kalinya kamu mengantarkan surat kepadaku. Entah sejak kapan ini menjadi pekerjaan tetapmu. Hahaha~
Kali ini kamu masih mengantarkan surat yang sama. Sebuah suratan lintas dimensi pemberitahuan sebuah perlombaan.
Dua bulan ini kamu selalu memberikanku pemberitahuan tentang perlombaan ini. Lomba berpasangan yang berjudul "survival of the fittest". Dan kamu tau? I believe that we must not become the fittest to survive.

Itu lah alasan mengapa aku tidak tertarik untuk mengikuti lomba ini.
Itu keputusanku, sudah sangat bulat!

Tapi sejauh ini kamu tidak menyerah. Haha :)
Kamu memang pintar, kamu mencoba menciptakan suasana di mana seolah partnerku menginginkan kita masuk dalam perlombaanmu.
Aku tau strategimu, menciptakan keraguanku akan keputusanku.

Kali ini aku ingin bercerita, berharap cerita kecil ini dibaca oleh partnerku.
Agar ia dapat memberitahuku, bahwa ia juga tidak ingin masuk ke dalam lingkaran setanmu.
Ucapan yang akan menghilangkan keraguanku.

Hanya hal itu, yang akan membuatku tidak mendengar apa yang aku tau tidak perlu aku dengar,
yang membuatku percaya














WE WILL SURVIVE
 

Post a Comment

Maaf november :) (part 2)

0 comments
8 November 2014

Hari yang kuharap dapat segera terlewati tiba.
Aku memang percaya akan kebesaranmu, namun aku tidak percaya kamu akan menciptakan sesuatu di hari ini.
Mungkin terlalu tendensius, tapi itu yang aku rasakan taun lalu kan?
Kamu tau bagaimana sakitnya ketika memori indah yang terbangkitkan justru akan menjadi pisau yang mencabik-cabikmu ketika melihat kenyataan yang ada?

Sudah cukup, aku tidak mau merasakan itu lagi!

Hari ini berjalan seperti yang aku harapkan. Tanpa ada harapan apapun, tanpa ada ekspektasi sedikitpun, cukup menjadi hari biasanya. Itu sudah cukup!

Malam-pun tiba, kembali ke kamar ini dan aku ingin tertidur dengan cepat.
Dengan segera teleportasi ke hari esok. Itu saja permintaanku.

Tapi tampaknya kamu belum mau aku melewatkan hari ini. Ada bayangan yang berdiri di depan pintu, ada ketukan yang mencegahku untuk tertidur.

Siapa?

Ada malaikatmu yang datang mengetok pintuku pada hari ini.
Bermodalkan lilin mati lampu dan sepotong rainbow cake.
Kejutan kecil mereka sangat bermakna sekali.
Aku sadar ada pesan yang ingin kau sampaikan melalui mereka.


Aku menjadi tersadar bahwa dalam gelapnya malam ini, sebatang lilin kecil yang biasanya tidak kau anggap akan mampu menerangi harimu.
Aku sadar bahwa ternyata telah ada surga kecil untukku di sini. Surga yang kau ciptakan dengan mereka, yang akan mampu menerangi bagian perjalanan yang gelap ini.
Aku tau,kamu mengharapkan ku untuk lebih mensyukuri hidup.Untuk menggali makna hidup lebih dalam.
Hingga aku tidak akan lupa dengan lilin-lilin kecil yang telah kau berikan untuk menerangiku.



Sementara itu aku tau kamu memberikan aku sepotong rainbow cake untuk membuatku sadar bahwa hidupku memang memiliki banyak rasa.
Aku tau kamu tidak mau menciptakan kebosanan dalam hidupku, untuk itu kamu memberikan hidup ini banyak rasa, dari yang aku suka hingga yang aku tidak suka.
Dari hal yang membuatku melayang hingga terjatuh kejurang.




Dan kuemu hari ini aku makan habis hingga tidak bersisa.
Sama seperti janjiku yang akan menikmati dan mensyukuri hidup ini, baik suka ataupun duka.



Kepada malaikatmu. aku ucapkan terimakasih.

Post a Comment

Maaf November :) (Part 1)

0 comments

Boleh jujur? :)
Bulan ini sebenarnya adalah bulan yang sangat aku takutkan.
Aku takut ada ekspektasi berlebihan yang akan dihancurka berkeping-keping.
Aku juga takut ada jarak yang akan menghancurkan segala upaya.
Dan aku takut, ada memori yang akan terulang kembali.

-Kamu tau kan ini november?-
Iya! Ini memang bulan yang paling aku tunggu. Banyak kejadian spesial yang seharusnya terjadi bulan ini.
Masih teringat ketika 2 tahun lalu tepat pada hari ini aku terbang menuju kampung halamanku.
Masih teringat ketika ada tepung serta telur yang menghantam kepala dan menjadikanku bagian dari adonan roti.
Aku tidak mungkin lupa!

-Lalu kenapa?-
Kamu tau kan tempat ini berbeda?
Kamu sadar kan aku ada di dimensi yang berbeda?
Aku sadar aku harus siap. Siap tanpa ada satu orangpun yang peduli. Siap tanpa adanya hal spesial di hari ini. Lalu bagaimana aku bisa menyiapkan diri ketika segala memori indah tersebut masih terbayang di kepalaku?
Wajar apabila aku akan selalu membandingkannya dengan dua tahun sebelumnya.
Wajar apabila akhirnya akan ada suatu perasaan yang mencabik hari ini. Perasaan yang selalu ada namun tidak pernah aku akui. Wajar kan?

-Tapi mereka pasti ingat kok.-
Tapi kamu tau? 12 hari setelahnya aku kembali akan mengutuk diriku. Mengutuk sosok yang tidak berdaya yang tidak mampu melawan eksistensi dari jarak.
Mengutuk sesosok manusia yang hanya bisa mengandalkan sebuah gelombang, yang tentunya tidak akan bisa menggantikan eksistensi sosoknya.
Mengutuk sayap yang tidak ada di bahunya.
Mengutuk keputusan yang telah dibuatnya.
Kamu tau rasanya?
Membayangkannya saja aku tidak mau. Aku perlu membuat diriku mati rasa.
Aku harus siap! 


Post a Comment