6 Tahun!

0 comments
Kita punya cerita, cerita tentang satu tahun pertemuan, cerita tentang dua tahun kebersamaan dan juga cerita tentang tiga tahun masa tenggang!

Total sudah enam tahun aku mengenalmu. Apakah saat ini aku sudah tergantikan? Ataukah aku yang sudah mendapatkan penggantimu?

Aku sadar, bahwa waktu yang kejam telah menyeret kita dalam sebuah dimensi yang berbeda. Dimensi pararel dimana kita sama-sama berjalan, namun tidak bertemu. Tiga tahun ini hanya mata kita yang saling menatap. Hanya pikiran kita yang saling membisikan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Namun sayang, Aku tidak bisa mendengarmu! Aku yakin kamu juga sama.

Kamu tau jarak terpanjang di dunia?

Ketika kita dekat namun tidak saling menganggap. Ketika pandangan kita, kita buang jauh-jauh, entah karena apa. Kita ada! Tapi kosong! Hanya menciptakan ruang-ruang hampa yang di dalamnya tidak terdapat apa-apa. Tidak pula terdapat oksigen untuk bernafas. Tidak ada kesempatan kita untuk hidup di dalamnya,

Aku tau, kita sama-sama ingin menghancurkan ruang hampa tersebut, memberinya sedikit daya untuk dimasuki udara. Memberinya sedikit kesempatan untuk hidup. Namun, memang sulit. Kita butuh enam tahun untuk berhasil menghancurkan dinding ke-egois-an kita.

Malam itu, ada percakapan yang terulang. Ada kata-kata yang mencoba menerobos dinding ke-egois-an tersebut. Ada dua pasang mata yang telah berani menatap, ada sepasang mulut yang telah berani berkata, ada pula empat buah telinga yang siap untuk mendengar. 

Ada dua orang yang kembali duduk bersama :)


Untukmu : Aku punya banyak cerita!


Post a Comment

De Ja Vu: Perjalanannya Berat, Tapi Tirtanya Manis

1 comments
Didera kelelahan berat akibat tidak tidur sehari, hari ini aku terbangun dari siesta ketika mentari sudah tidak lagi menampakan sinarnya. Tidak terasa jarum pendek dari jam-ku sudah menunjuk kepada angka delapan.

Aku terbangun, dengan berat hati aku harus membatalkan janjiku malam ini, janji untuk bertemu dengan temanku, serta janji untuk bercerita dengan Tuhanku.

Walaupun kemarin telah bertamu ke tempat-Nya, namun hasratku berkata bahwa aku masih ingin kesana kali ini, ada cerita yang belum tersampaikan, ada hal yang belum aku ungkapkan, kepada Tuhanku, juga kepada diri sendiri.

Walaupun aku membatalkan janji tersebut, ada sebuah keyakinan, keyakinan bahwa aku hari ini akan datang ke tempat-Nya, bersama seseorang temanku. Sebuah keyakinan kecil. Hanya Firasat.

Ada urusan yang lebih penting! Urusan tentang cahaya di kamarku yang tengah dilanda pemadaman lokal akibat bohlam yang sudah berumur 3 tahun. Dan alasan itu sudah cukup untuk membatalkan janjiku malam ini.

Kupinjam motor dari temanku, dan aku persiapkan diriku untuk berangkat menuju sebuah minimarket dekat sini. Hingga akhirnya kamu masuk! Ya kamu! Orang yang aku tau akan bersamaku malam ini, entah kenapa.

"Mau kemana kak?" -tanyamu, entah hanya basa-basi atau penasaran.
Jawaban yang keluar dari mulutku justru jawaban refleks yang dihasilkan oleh saraf tidak sadar, jawaban yang bukan sebuah kebenaran , bukan pula sebuah kebohongan. "Mau sembahyang dik, ke Pura."

Aku tau jawabanmu selanjutnya. Aku sangat tau itu.

"Eh? Ke Pura kak? Aku ikut dong. Tunggu aku mandi dulu ya." -responmu yang telah aku perkirakan sebelumnya.

Menunggumu mandi ibarat menjinakan bom waktu yang siap meledak. Pertama, kamu mandinya lama dan kedua, jarum panah terpendek dari jam ini telah memindahkan dirinya menunjuk ke angka sembilan. Terlambat sedikit saja, kita tidak akan bisa kembali ke kasur kita masing-masing malam ini. Dan mungkin harus berakhir dengan dengan tidur sambil melihat sebuah atap fasilitas umum.

Pukul 21.40, kamu keluar dari tempat yang telah menyita waktumu. Kuda besi beroda dua ini juga telah cukup panas menanti kapan ia akan menyalurkan tenaganya. Kita berangkat, dengan kamu menjadi kusirnya. Sementara biarkan aku menikmati angin malam ini. Bersamaan dengan hukum relativitas dimana cahaya dari lampu penerangan di jalan ini satu persatu mulai melewatiku.

Entah dari mana, ada suatu perasaan aneh yang mendera. Bukan firasat, tapi kali ini kenyataan. Aku merasa kaki belakang kuda besi ini mengalami masalah.

"Dik, kamu ngerasa ada yang aneh ga?" -tanyaku mencoba memastikan.
"Memang kenapa kak?" -jawabmu tanpa basa-basi.
"Ban belakangnya agak goyang ya?" -mencoba memperjelas permasalahan yang aku rasakan.
"Ah masa?" - Bersama jawabanmu kali ini, juga kamu sertakan sedikit stimulus dengan menggoyang-goyangkan kuda besi ini, seolah menantangnya untuk memberitahu kami apa masalahnya.

Entah apa yang terjadi dengan dunia ini, mungkin tiba-tiba gravitasi bumi bertambah kuat menarik kami ke tanah sehingga memberikan beban yang lebih dari biasanya, ataukah memang metabolisme kami mengendapkan lemak makanan dengan jumlah yang banyak sehingga akhirnya membuat kuda besi ini terengah-engah dan akhirnya ...

BUM! Ban belakang kuda besi ini Meledak (dalam arti yang sesungguhnya... MELEDAK).

Kuda besi ini berjalan terengah-engah seolah pincang, ling-lung ke kiri dan ke kanan. Entah keajaiban apa, ditengah kecepatan yang mencapai 60 km/jam ini, kuda besi ini belum kehilangan kesadarannya, sehingga kami berdua selamat tanpa perlu bercinta dengan aspal.

*Kamu ingat? Ini kedua kalinya kita mengalami hal yang sama. Sama persis! Kebetulan macam apa ini yang selalu membawa kesialan setiap aku berangkat denganmu. Yang jelas, aku menikmati kesialan ini.

Aku tertawa membayangkan kuda besi yang terengah-engah hingga akhirnya menyerah membawa kita. Aku juga tertawa melihat bahwa kita diberikan ujian yang sama, dengan skenario yang sama seolah menanyakan keyakinan kita. Apakah kita masih ingin bertamu ke tempat-Nya?

Aku kemudian turun memeriksa kaki belakang kuda besi kita yang tampaknya terluka.
"Kita cari tambal ban dulu. Kalo mau balik, gapapa, kalo mau tetep sembahyang juga gapapa."-kataku memberikan instruksi.
"Oh iya, di sekitar stasiun ada kok. Yuk nae naik" -jawabmu meneruskan komandoku.

Sadar dengan kondisi kuda besi kita yang rapuh, aku memutuskan untuk berjalan kaki. Cukup jauh memang, namun aku tidak ingin menambah parah kondisinya.

Kamu sepertinya tidak enak meninggalkanku, namun aku sadar, aliran waktu tidak akan memberi belas kasihan kepada kita, tidak akan memperlambat waktunya. Apalagi menghentikannya.

"Kamu duluan aja, biar cepet, nanti pas aku nyampe stasiun kan udah selesai." Kali ini tampaknya kamu mau menurutinya.

Aku berjalan, cukup jauh. Tapi kesenangan ini sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan kelelahan kakiku. Aku senang? Ya, ini cukup berkesan. Mampu menciptakan sejarah tersendiri untukku. Aku senang? Ya, ini unik. Dua kali berturut-turut! Sedikit aneh memang, tapi aku menikmati ketidak-sempurnaan perjalanan ini. Ini yang membuat cerita ini menarik, yang membuatnya berbeda.

Cukup jauh aku berjalan, aku akhirnya bertemu denganmu di tempat perjanjian kita, kuda besi kita telah terlihat cukup sehat untuk membawa kita bertamu ke tempat-Nya, atau mungkin juga kembali ke pesinggahan kita.

"Kamu mau balik aja? Kayaknya sudah cukup malam." -tanyaku, walaupun sebenarnya masih belum ingin pulang, karena ada tempat yang aku tuju.
"Ngapain? Baru jam sepuluh kok. Masih sempet kalo sembahyang." -pernyataanmu sangat melegakan, memberikanku kesempatan menuju ke tempat tujuanku.
"Oke sipp!" -jawabku semangat.

Kuda besi merah kali ini melaju dengan yakin. Tanpa ada keraguan menuju ke tempat tujuan. Kita akan bertamu, bertamu ke tempat-Nya.

Tiba di tempat-Nya, hanya ada kesunyian yang menyambut kami. Menyadari perputaran Bumi tidak akan memberi kami banyak waktu, kita langsung bersiap-siap. Kita sudah terbalut rapi dengan persenjataan kita untuk menyembah-Nya. 

Satu persatu sarana yang diperlukan aku petik sehingga memberikan sarana terbaik yang fresh from the oven. Wajah yang kelelahan ini juga telah kita basuh dengan aliran air yang menyambut kami sebelum masuk ke dalam Pura.

Kini kita masuk. Tinggal beberapa hal lagi yang perlu aku lakukan. Salah satunya adalah membuat Tirta (air suci), karena tampaknya Tirta yang ada sudah cukup lama terdiam di tempatnya tidak bergerak, dan tanpa ada pelindung dari kejamnya perubahan alam.

Aku ke belakang Pura, ke tempat di mana air yang telah disiapkan untuk menjadi Tirta tersimpan. Perlahan, air tersebut sudah bermobilisasi ke dalam wadah Tirta yang telah dipersiapkan. Bunga kenanga, nusa indah, dan satu kembang sepatu juga ikut berenang-renang menjadi resep yang kami percaya akan menjadi air suci.

Tiga buah dupa kemudian tertancap dengan rapi di depan Padmasana, bersanding gagah dengan ramuan tirta yang kita buat. Lantunan mantra kemudian mengikuti berharap agar air tersebut mampu menjadi Tirta.

Kita berpindah ke tempat lainnya. Untuk memberikan dupa, mengharap kehadiran-Nya, untuk bersedia mendengarkan Doa kami.

Kini persiapan kita telah usai. Kita sudah duduk bersila,bersiap mengungkit memori dari mantra-mantra menjadi sebuah lantunan Doa yang akan melagu dengan pasti, berharap diterima, atau setidaknya didengar.

Bercerita kepada-Nya, memang seolah membekukan aliran waktu di sekitar kami. Ada ketenangan. Ketenangan yang mampu membuat dunia yang berputar menjadi berhenti untuk kami yang sedang bercerita. Ketenangan yang mengasingkan kami dari hiruk pikuk yang sebenarnya ada 30 meter dari sekitar kami.

Kini kami sudah selesai bercerita dengan-Nya. Waktunya kami meminum Tirta yang telah kami buat walaupun hanya sekedarnya.

Aku merasakan sesuatu ketika meminumnya. Apakah kamu merasakan yang sama?


"Manis sekali ya kak? Seperti ada gulanya."




1 comment

Post a Comment

Another Progress

0 comments
Yay!! Hari ini aku senang. Walaupun cuman sedikit, tapi ada progress lah di blog ini.
Hari ini juga aku belajar, kalo ga semuanya harus diselesaikan dengan sempurna. Ternyata kalo sedikit demi sedikit dibangun, akhirnya jadi kok. Haha.

Keep moving yo!!

Post a Comment

Catatan Hutang Satu

0 comments
Sudah sekian lama sejak keinginan untuk buat blog. Ending-endingnya selalu ngerasa bahwa ada sesuatu yang kurang sempurna (entah templatenya lah, belum ada gambar lah, dll lah) yang jadi alasan buat nelantarin blog nya. Pengen banget sebenernya buat sebuah blog yang sesuai sama konsep yang wow gitu. Tapi ya udahlah, life must go on. Anyway, aku nulis ini sebernya untuk dibaca sendiri di kemudian hari. Bahwa ada suatu projek yang belum selesai. Suatu ruang tanpa drama, ruang yang penuh impian, dengan segudang inspirasi yang ingin kamu tebarkan. Selama tulisan ini masih ada, maka aku catat itu sebagai hutang, oke?
.

Post a Comment